Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Thursday, June 5, 2008

uang

8 Kiat Membahas Soal Uang

TPG Images
Senin, 2 Juni 2008 | 13:03 WIB
Membahas persoalan uang, kalau tidak hati-hati, bisa menimbulkan pertengkaran dengan pasangan. Padahal, hal yang satu ini wajib dibahas. Bagaimana caranya agar diskusi soal uang berjalan mulus? Ini dia kiatnya.

1. Santai. Pria tak suka berbicara terbuka soal uang. Jadi, bicarakan padanya saat saat sedang santai, atau di udara terbuka akan sangat membantu.

2. Mengakui. Katakan pada pasangan, kebiasaan keluarga Anda terhadap uang. Terutama bila Anda tak banyak membelanjakan uang, sebaiknya Anda yang memulai membahasnya.

3. Rendah hati. Jangan pernah merasa cara Anda paling benar. Dengarkan apa yang dikatakan pasangan, dan terima pendapatnya. Bisa saja cara pasangan sangat berbeda dengan cara Anda. Namun, sebaiknya Anda berdua saling menghargai pendapat dan cara masing-masing, walau tak sepenuhnya setuju.

4. Tujuan bersama. Pertengkaran paling buruk adalah bila masing-masing pasangan tak punya tujuan yang sama. Anda perlu memikirkan peristiwa penting dalam kehidupan Anda berdua, yang berkaitan dengan keuangan, seperti melahirkan, pendidikan anak, membeli rumah, merawat orangtua. Diskusikanlah bersama.

5. Menghitung Bersama. Begitu Anda mulai menetapkan jumlah yang akan ditabung, konsisten dan lakukan berdua. Begitu berhasil, Anda akan merasa bahagia luarbiasa.

6. Minta bantuan. Bicarakan dengan perencana keuangan untuk membantu mengurangi masalah keuangan yang Anda hadapi. Lebih mudah membicarakan masalah-masalah pelik dengan orang ketiga yang obyektif. Atau, ikuti seminar keuangan berdua pasangan.

7. Jangan saling menyalahkan. Sebagai contoh, bila pasangan berutang, jangan bertengkar. Fokuskan saja pada jalan keluar yang akan diambil. Sadarilah, Anda berdua berada dalam satu tim keuangan.

8. Tak Mudah Bicara Soal Uang. Pada kenyataannya, memang tak mudah membahas soal uang, bahkan lebih daripada pertengkaran itu sendiri. Namun, tetap sisihkan waktu untuk berdiskusi dan jangan berdebat. Meski Anda salah, lebih baik berkomunikasi, daripada tidak sama sekali. Ikuti motto, "Hentikan pertengkaran! Diskusikan permasalahannya!"
Selengkapnya......

pernikahan

10 Kesalahan dalam Pernikahan

Getty ImagesJumat, 2 Mei 2008 | 15:57 WIB
Pernikahan tanpa masalah memang mustahil, tapi bukan berarti masalah boleh menghampiri Anda dan pasangan setiap saat. Kalau ini yang terjadi, berhati-hatilah. Coba teliti kembali penyebab persoalan rumah tangga Anda.

Barangkali Anda melakukan satu atau beberapa kesalahan dalam pernikahan, seperti yang dijabarkan berikut ini.

1. TIDAK MENGHARGAI
Meski pasangan Anda punya kekurangan, jangan membeberkannya kepada sahabat atau rekan kerja. Bagaimanapun, pasangan ingin dan harus dihargai.

2. TIDAK MENDENGARKAN
Anda pura-pura tidak mendengar saat ia berbicara, Anda malah makin asyik menatap layar teve atau komputer di depan Anda, bahkan pergi meninggalkannya. Kalaupun mendengarkan, Anda langsung memotong pembicaraannya dan ngotot pada pendirian Anda.

3. KEHIDUPAN SEKSUAL "SURAM"
Setiap kali diajak berhubungan intim, Anda menolak dengan segudang alasan, membuat pasangan bingung dengan sikap Anda ini. Hati-hati, kehidupan seksual yang nyaris mati bisa mengancam perkawinan. Apalagi, bila usia pernikahan masih tergolong muda. Segera konsultasikan masalah ini kepada dokter, psikolog, atau psikiater.

4. SELALU MERASA BENAR
Dilihat dari sudut pandang mana pun, Anda merasa pasangan selalu salah, dan Andalah yang tahu bagaimana yang seharusnya. Tak mau mengakui kesalahan juga termasuk dalam kategori ini. Kalaupun akhirnya mengakui, Anda siap dengan sederet alasan yang ujung-ujungnya tetap menyalahkannya. Sebaiknya, jawab pertanyaannya yang sederhana dengan jawaban yang logis dan simpel, bukan melebar ke masalah lain.

5. JANJI PALSU
Anda sudah berjanji akan memperbaiki sikap, tapi tetap saja kesalahan yang sama diulang lagi, bahkan berkali-kali. Samakan ucapan dengan perbuatan. Kalau memang tak mau melakukannya, jangan memberi janji palsu.

6. TIDAK PEKA
Ketika dia mengatakan bahwa ucapan Anda sudah membuat hatinya terluka atau tidak seharusnya diungkapkan, sebaiknya hentikan kata-kata Anda. Hargai perasaannya, bukan malah mengatakan bahwa ia punya selera humor yang jelek atau terlalu sensitif.

7. TIDAK JUJUR
Hindari kebiasaan berbohong dan menyimpan rahasia pada pasangan. Sekali berbohong, tak jarang, Anda harus melakukannya lagi untuk menutupi kebohongan sebelumnya Sehingga, lama-kelamaan Anda makin lihai. Hati-hati, ini bisa merusak rasa saling percaya.

8. KEBIASAAN BURUK
Meski tahu punya kebiasaan buruk, tetap saja Anda melakukannya. Padahal, pasangan sudah gerah pada sikap Anda. Misalnya, Anda selalu membuatnya menunggu berjam-jam setiap kali membuat janji bertemu, dandan terlalu lama, atau malas membereskan rumah yang berantakan.

9. EGOIS
Anda boleh membeli tas dan sepatu mahal kapan pun Anda mau, tapi melotot dan mengomel ketika pasangan membeli tas untuk menggantikan miliknya yang sudah kusam. Anda juga tak suka bila ada keluarga dan teman yang berkunjung ke rumah karena malas harus menjamu mereka. Bila pasangan mengajak nonton film ke bioskop, Anda sering menolak, tapi selalu memaksanya menemani Anda berbelanja.

10. TEMPERAMENTAL
Belum selesai pasangan menjelaskan alasan, Anda sudah mencak-mencak tak keruan dan menuduhnya macam-macam. Buntutnya, sering kali Anda yang malu sendiri karena ternyata situasinya tidak seperti yang Anda kira. Sebaiknya, biasakan meredam emosi sehingga persoalan bisa didiskusikan dengan pikiran jernih dan suasana tenang. Selengkapnya......

serbi

Tahun-tahun Rawan Perkawinan


Rabu, 28 Mei 2008 | 09:51 WIB
PERKAWINAN seumur hidup yang didambakan setiap pasangan tidak gampang didapat. Perlu perjuangan dan kemauan bersama suami-istri untuk terus memeliharanya dari tahun ke tahun. Berikut tahun-tahun rawan dalam perkawinan yang perlu diwaspadai.

DUA TAHUN PERTAMA: PENUH PERJUANGAN

Inilah tahun-tahun yang mengindikasikan, apakah pasangan "pengantin baru" bisa survive di tahun-tahun berikut. Banyak yang berhasil melampauinya, tak sedikit juga yang memutuskan bercerai. Sebab, di tahun inilah sebenarnya realitas dimulai. Masing-masing pihak melihat dengan sesungguhnya, siapa pasangannya.

Bersiaplah menerima apa yang disebut depresi pengantin baru. Usai pesta, pasangan menempati rumahnya sendiri dan belajar hidup mandiri sebagai suami-istri. Di sinilah pembagian peran dan kerjasama dimulai. Ada yang lancar, ada pula yang kagok. Banyak hal yang menjadi prioritas yang harus diselesaikan bersama. Tentang uang, misalnya, siapa yang harus mengatur. Juga bagaimana menghabiskan waktu luang bersama, menangani mertua, para ipar dan keluarga besar lainnya. Bayi yang kemudian lahir akan membuat seluruh ritme ayah dan ibu berubah. Jelas, semua itu menimbulkan tantangan sekaligus kecemasan.

Nah, agar bisa survive dan berjalan mulus, di tahun-tahun pertama ini pasangan suami-istri seharusnya sudah mulai mendiskusikan tentang bagaimana memecahkan masalah jika terjadi konflik, juga membicarakan harapan-harapan masing-masing pihak.

Pasangan yang bisa melewati masa ini adalah mereka yang selalu punya pandangan positif terhadap pasangannya, tidak mudah menyerah, dan mau bersama-sama mencari jalan keluar di setiap persoalan. Meski tahun-tahun pertama ini sulit, mereka akan tetap mengenangnya sebagai tahun-tahun pertama yang penuh keintiman, kemesraan, dan saling belajar. Yang tak kalah penting, bisa menjadi pelajaran serta pengalaman berharga untuk menempuh tahun-tahun berikut.

TUJUH TAHUN: HARUS WASPADA

Pernah dengar istilah "the seven years itch"? Inilah yang disebut tujuh tahun yang membuat "gatal". Setelah bertahun-tahun bersama, suami istri memang mulai menemukan pola dan ritme perkawinan yang semakin jelas. Namun demikian, keinginan masing-masing yang sudah terbaca dan kedekatan secara fisik serta emosional ini belum menjamin bahwa kemesraan dan keintiman tetap berlanjut.

Setelah tujuh tahun berpasangan, banyak suami-istri yang mulai terjebak dalam rutinitas berumah tangga. Suami dan istri juga mulai sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Ibu mengurusi anak-anak yang mulai masuk sekolah dan tumbuh besar, ayah juga sibuk berkutat dengan kariernya yang semakin menjanjikan. Belum lagi tuntutan kebutuhan keluarga yang semakin besar, membuat ayah semakin sibuk dengan pekerjaan tambahan yang bisa menghasilkan uang.

Semua itu membawa konsekuensi dalam hubungan perkawinan. Karena masing-masing sibuk, waktu untuk berduaan semakin berkurang. Akibatnya, keintiman jadi terancam. Yang lebih mengkhawatirkan, karena masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri dan semua hal berjalan rutin, hubungan intim semakin dilihat hanya sebagaihal rutin untuk pemenuhan kebutuhan biologis saja. Bukan lagi ekspresi kemesraan dan kasih sayang. Kalau tak hati-hati, masing-masing pihak bisa merasa gerah dan gatal, seperti orang yang terperangkap. Sedikit godaan saja atau melihat hal-hal baru yang lebih menggairahkan di luar rumah, bisa membuat komitmen terancam.

Itu sebabnya banyak affair atau perselingkuhan yang terjadi setelah 5 atau 7 tahun perkawinan. Pasangan berusaha keluar dari hal-hal yang membuatnya jenuh. Di antaranya, menjalin hubungan dengan orang yang sama sekali baru.

Untuk menjaga agar gairah dan keintiman tetap menyala, lakukan bulan madu kedua, revisi kembali hubungan perkawinan dan pola keintiman apa yang bisa diterapkan, sesuai dengan usia perkawinan. Jangan berharap terlalu berlebihan bahwa dalam waktu singkat semuanya akan berubah seperti pengantin baru. Yang penting adalah keinginan untuk tetap berkomitmen dan memperbarui kemesraan.

LIMA BELAS TAHUN: PENUH KESIBUKAN

Pada tahun kelima belas, secara emosi dan fisik, kedekatan suami-istri semakin kuat. Banyak masalah yang sudah bisa diselesaikan, misalnya rumah sudah terbeli dan keuangan keluarga sudah mapan. Tapi tantangan berikutnya muncul di tahun ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, problem yang lebih banyak muncul adalah kejenuhan. Ditambah juga kebersamaan keluarga yang semakin berkurang. Misalnya, anak-anak yang memasuki praremaja, mulai lebih banyak bergaul di luar rumah, dan sibuk dengan urusan sekolah. Ayah berada pada puncak kariernya, begitu pula ibu yang bekerja.

Tak heran jika di tahun-tahun awal mudah membuat janji untuk makan malam bersama pasangan di restoran yang romantis, kini malah susah. Sulit memintanya meluangkan waktu untuk bermesraan karena kesibukannya.

Perubahan fisik masing-masing pihak, misalnya bentuk tubuh semakin melebar atau kerut di wajah semakin kentara, juga melahirkan kecemasan tersendiri. Masing-masing merasa tidak lagi menarik dan seksi di mata pasangannya. Rasa minder lalu timbul. Kekhawatiran pasangan tak lagi bergairah, bisa berakibat ke hubungan intim. Kebanyakan rasa minder ini diwujudkan dengan menolak ketika diajak bermesraan. Padahal, karena masing-masing pihak sudah sekian lama tidur di satu ranjang, pasti sudah mengenal tubuh pasangannya. Jadi, masalah itu sebetulnya jangan dijadikan penghambat dalam berhubungan intim. Malah karena kedekatan emosional yang semakin kuat, bisa membuat hubungan intim menjadi lebih mantap.

Memang, sih, jangan membayangkan hubungan intim dengan frekuensi yang sama dengan pengantin baru. Tapi yang harus diingat, bukan lagi jumlah, tapi kualitasnya. Meski dalam satu bulan bisa dihitung dengan jari, lakukan berbagai variasi untuk memberi pembaruan. Mulailah memberi kejutan-kejutan yang manis, misalnya mengirim SMS pada istri, "Bagaimana kalau malam ini kita ketemu di hotel x dan menghabiskan malam tanpa anak-anak?"

TAHUN-TAHUN SESUDAHNYA

Simone Signoret, penulis terkenal dari Perancis, di salah satu novelnya menulis, "Rantai tidak mengikat perkawinan, melainkan mata rantainya. Ratusan mata rantai yang dikait setiap hari berdua, yang mengikat terus selama bertahun-tahun. Itulah yang membuat perkawinan bertahan, bukan gairah dan bahkan juga seks!"

Jadi, walaupun 5, 10, bahkan 25 tahun perkawinan sudah dilewati dengan aman, jangan pernah terlena. Ada, lo, yang baru sebulan merayakan ulang tahun perkawinan ke-25, kemudian bercerai. Apa pasal? Kedekatan kadang membuat kita terlena. Kita merasa sudah tahu apa yang menjadi kebutuhan pasangan. Padahal, setiap manusia selalu membutuhkan penyegaran dan kejutan-kejutan dalam hidupnya. Termasuk dalam hidup perkawinannya.

Meski tampaknya perkawinan sempurna, tak ada salahnya untuk duduk bersama setiap tahun, misalnya saat ulang tahun perkawinan, untuk melihat kembali, apa yang sebenarnya luput dari perhatian berdua yang menyangkut soal hubungan suami-istri. Apakah kita sudah peka dengan kebutuhan pasangan? Model kemesraan dan keintiman apa yang kita inginkan, seiring dengan pertambahan usia perkawinan? Apa yang menjadi ganjalan atau kendala di semua hal yang bisa mengganggu hubungan? Nah, semua itu harus ditelaah lagi, berapa pun usia perkawinan Anda. Tak ada yang bisa menjamin selamanya akan berjalan mulus, bila masing-masing pihak terlena dan cuek dengan keadaan perkawinan yang tampaknya sempurna, tapi menyimpan bom waktu. Nah, Bu-Pak, sekarang sudah tahu, kan, apa yang mesti dilakukan?

Penulis : Santi Hartono Selengkapnya......

serbi

Tiga Pelajar Indonesia Juara Kompetisi Internasional

TPGIMAGESRabu, 28 Mei 2008 | 21:33 WIB
TANGERANG, RABU - Pelajar Indonesia berjaya dalam kompetisi penelitian ilmiah International Young Inventor Project Olympiad di Georgia. Indonesia berhasil meraih dua medali emas dari penelitian di bidang aplikasi matematika-komputer dan biologi.

Para siswa yang meraih prestasi gemilang karena mampu bersaing dengan 30 proyek penelitian dari 22 negara lain itu disambut Direktur Pembinaan SMA Depdiknas Sungkowo M saat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (27/5) sore. Mereka adalah Yoseph, siswa SMA Kharisma Bangsa Tangerang, serta M Farhan Barona dan Erfan Ramadhani, keduanya siswa SMA Fatih Banda Aceh.

Yoseph mempresentasikan makalahnya di bidang aplikasi matematika-komputer dengan judul "Numerical Solution Techniques of Heat Equation". Penelitian ini berusaha menganalisa penyebaran panas pada bidang dua dimensi.

Lewat proyek ini, Yoseph dinilai berhasil memberi gambaran bahwa teori matematika tidaklah hanya teori belaka di atas kertas, tetapi juga memiliki sisi aplikatif. Penghitungan penyebaran panas tersebut dapat digunakan, misalnya, untuk isolasi bangunan-bangunan dari panas agar tidak terganggu perubahan cuaca, atau bahan-bahan listrik yang menghantarkan energi panas.

Adapun Farhan dan Erfan meneliti manfaat mangrove yang mampu menjaga kebersihan air dari limbah industri manufaktur. "Hutan bakau lebih banyak dipahami untuk mencegah abrasi. Ke depan, seperti di Aceh, saya harap juga bisa disadari manfaatnya untuk mengatasi polusi air yang tercemar logam berat," ujarnya. Selengkapnya......

fenomena

Waspadai Cuaca Buruk Akibat Siklon Tropis Rosie

BMG
Siklon Tropis Rossie terbentuk di perairan selatan Lampung sejak Selasa (22/4) dan bergerak ke arah timur-tenggara dengan kecepatan 25 kilometer perjam.
Artikel Terkait:
Bibit Badai Tropis Terbentuk di Barat Daya Sumsel
Selasa, 22 April 2008 | 21:30 WIB
JAKARTA, SELASA - Hanya berselang sehari setelah terdeteksi depresi tropis di perairan barat daya Lampung, bibit badai tersebut telah berkembang dan membentuk sikon tropis yang diberi nama Rosie. Siklon tersebut diperkirakan masih akan menyebabkan cuaca buruk di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut informasi peringatan dini yang dikeluarkan Tropical Cyclone Warning Centre Jakarta, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Selasa (22/4), status siaga siklon tropis ditujukan untuk daerah Lebak, Pandeglang, Serang, dan Tangerang, Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, dan Rejang Lebong. Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Bandung, Bekasi, Bogor, Ciamis, Cianjur, Garut, Kodya Bandung, Kodya Bogor, Kodya Sukabumi, Sukabumi, Tasikmalaya, Cilacap, Kodya Bandar Lampung, Lampung Barat, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Agam, Danau Singkarak, Kodya Bukittinggi, Kodya Padang, Kodya Padang Panjang, Kodya Sawahlunto, Kodya Solok, Lima Puluh Koto, Padang Pariaman, Payakumbuh, Pesisir Selatan, Sawahlunto-Sijunjung, Solok, Tanah Datar, Lahat, Muara Enim, Musi Rawas and Ogan Komering Hulu.

Pada Rabu (23/4) pukul 07.00 WIB Siklon Tropis Rosie diperkirakan berada pada sekitar 600 kilometer sebelah selatan Tanjung Karang atau 700 kilometer sebelah barat barat daya Cilacap tepatnya pada 13,5 Lintang Selatan (LS) dan 105,5 Bujur Timur (BT). Siklon bergerak kearah timur-tenggara dengan kecepatan 25 kilometer per jam. Akibat siklon tersebut angin berembus di sejumlah wilayah maksimum hingga 85 kilometer perjam.

Cuaca buruk berpeluang untuk terjadi akibat depresi tropis ini. Hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang berpotensi terjadi di pesisir barat dan selatan Sumatera, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jakarta dan Pesisir Selatan Jawa Tengah. Gelombang dengan ketinggian 3 meter atau lebih terjadi di Perairan sebelah Barat Daya Sumatera hingga Perairan sebelah Selatan Jawa Barat.

"Pelayaran perlu mewaspadai perubahan cuaca ini. Penerbangan tidak terganggu, tapi karena ada liputan awan tebal, paling goncangan-goncangan saat pesawat menembus," ujar staf BMG yang dihubungi malam ini. Siklon tropis diperkirakan masih akan berlanjut sampai beberapa hari ke depan namun tidak akan membahayakan wilayah daratan di Sumatera maupun Jawa karena memiliki sifat menjauhi ekuator (khatulistiwa). Selengkapnya......

fenomena

Gempa Raksasa Picu Gempa Kecil di Berbagai Belahan Dunia

China Photos/Getty Images
Rumahnya habis totalKamis, 29 Mei 2008 | 09:40 WIB
JAKARTA, KAMIS - Gempa sangat besar--seperti gempa dengan kekuatan melebihi skala 9 yang memicu tsunami di Aceh tahun 2004--dapat menyebabkan gempa-gempa kecil di berbagai belahan dunia. Meski belum ada penjelasan ilmiah mengenai hal tersebut, data statistik cenderung mengarah ke sana.

Hal tersebut dilaporkan para peneliti dari Badan Survei Geologi AS atau USGS (United States Geological Survey) yang memantau gempa di seluruh dunia. Getaran yang ditimbulkan gempa raksasa sepertinya mengurangi kuncian patahan sehingga bergeser.

"Hal tersebut menimbulkan tekanan pada patahan. Memang kecil, namun cukup untuk memicu gempa," ujar Tom Parsons, dari USGS, penulis utama laporan yang dimuat jurnal Nature Geosciences edisi terbaru.

Parson dan timnya telah mempelajari rekaman data 15 gempa besar berkekuatan di atas skala 7. Ternyata, 12 dari 15 gempa diikuti gempa-gempa kecil di berbagai belahan dunia yang dilewati getaran yang menjalar. Hubungan tersebut memang belum dapat menjelaskan bahwa gempa kecil dipicu gempa besar, namun secara statistik memiliki kecenderungan seperti itu.

Untuk gempa Aceh, misalnya, tidak hanya memicu tsunami, namun juga diikuti gempa lebih kecil hingga di Alaska, California, dan Ekuador. Bahkan Australia tengah yang jarang mengalami aktivitas seismik dilaporkan terjadi gempa kecil.

"Kita tak dapat melihat mundur. Ini hal terbaik yang bisa kami lakukan," ujar Parson. Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah memahami sifat fisik patahan-patahan jika terkena getaran gempa. (NG) Selengkapnya......

Sunday, May 4, 2008

Sumbu bagian 1

SUMBU

Apapun yang aku pikirkan pasti kamu cela, apapun yang aku katakan pasti kamu tertawakan
” Aku mencela karena kamu bisanya cuma berfikir, aku tertawa karena kamu cuma bisa bicara, apakah kamu tidak pernah punya keinginan untuk membaca atau sekedar berlatih mengeja?”
Apa yang mesti aku baca?


” Kamu harus berubah ”
Kenapa aku harus berubah? Aku bisa berubah kalau kamu mau berhenti melangkah
” aku akan berhenti melangkah kalau tangan dan kakimu sudah aku patahkan”
Oh, jangan.. asal kamu tau, kakiku ini sudah pernah menencetak gol ke gawang Thailand
” boleh tau apa yang kamu dapat?”
Tidak ada, tapi tanganku ini juga sudah pernah memukul KO Andrian Kaspari
” lantas apa pula yang kamu dapat?”
Juga tidak ada, tapi salju yang menebing tinggi juga sudah pernah aku gapai dengan sepasang kakiku ini
” apa yang kamu peroleh?”
Sudah aku katakan, aku tidak pernah memperoleh apa apa
” lantas mengapa tidak boleh aku patahkan tangan dan kakimu? bukankah tangan dan kakimu tidak pernah bisa memberimu apa-apa, tidak bisa membuatmu terbang mengejarku!”
Ah, memang susah ngomong denganmu, aku akan membuat sayap agar bisa terbang mengejarmu.. akan membuat tembok dan pagar yang amat tinggi agar langkahmu berhenti
***
Berhenti.. percakapan terhenti, sepi..gelap..
Bisu kembali menemuiku. Perdebatanku kembali membisu. Mungkin kami sudah lelah berdebat setiap malam, bosan..., atau kami sudah kehabisan kata karena semua partitur sudah kami bincangkan. Ah tidak, besok malam pasti kami berdebat lagi. Toh masih banyak ruang untuk menunggunya sambil menghabiskan kopi pahit kesukaanku.
Diluar gelap masih merangkak beranjak, sementara dingin begitu telaten mengusap setiap kulit yang tergolek. Satu persatu daun daun sombong dan bunga bunga pongah membaur dalam kebersamaan gelap. Tak satupun diantara mereka yang berani bergoyang memamerkan keindahan, memamerkan setiap inchi kekaguman yang kerap mereka dapatkan saat mentari menerang. Mereka kini tersudut disatu tempat yang kerap disinggahi tapi tak jua mereka kenali.
Tubuh kecil yang terpulas di kasur lantai mengingatkanku pada sosok wanita yang telah melahirkannya. Tak henti hentinya kubertanya keberadaan hati wanita itu yang tega meninggalkan bocah selucu dan semungil ini. Apalagi saat disuatu siang anak ini berlari sembari berteriak kearahku, “ ayah...., nesha ngliat orang mirip gambar di meja ayah. Nesha lalu menghampirinya, nesha ngomong kalau di meja ayah ada gambar yang mirip dengannya. Tapi dia cuma tersenyum sambil memberi nesha uang seribu. Katanya cerita nesha bagus...”
***
“ Tidak kamu habiskan nasi gorengmu bri..?”
Nasi goreng lagi, nasi goreng lagi. Apa tidak ada menu lain selain nasi goreng. Bosan lidahku mengecapnya. Pedas, asin, berminyak, belum lagi ketuang kopi pahit. Mual rasanya perutku.
” Kalau kepingin menu lain, kenapa kamu tidak mencarinya? ”
Mencari kemana, semua pintu sudah terkunci. Lampu seberang juga sudah tidak menyala..
” Kan kita punya senter penerang malam. ”
Mataku masih cukup awas melihat aspal
“ Jangan selalu kamu acuhkan cahaya senter keluarga kita. Walau sudah uzur dan redup tapi itu selalu berguna untuk kita “
Mataku masih cukup awas melihat aspal
“ Kamu memang keras kepala! “
Bukan kepalaku yang keras, tapi musikmu yang terlalu keras. Setiap hari menembang lagu-lagu yang sama.
” Percuma kamu setiap malam mendebat, dia terlalu kuat berjalan, dan dia tak kan pernah kelelahan, tak akan tergoda halte halte rindang tempatmu terpaku. Dia akan terus saja berjalan tanpa memperdulikan langkahmu yang mulai pincang, tak kan perdulikan nafasmu yang mulai tersengal sesak bisingan tetangga. Dia tidak akan berhenti hanya untuk menunggumu menyemir sepatu, atau sekedar memijit dagumu yang sudah mulai panjang.
Kamu ingin langkahnya terhenti? Kamu ingin detaknya berhenti agar kamu punya kesempatan mengencangkan kancing bajumu yang mulai mulur?
Kalau aku justru berharap dia berkenan berjalan lebih cepat dari biasanya, berjalan melompat atau berlari sekalian agar mimpimu cepat berlalu....cepat selesai ”
Aku hanya ingin berubah!
” Kamu bukan ingin berubah, tapi ingin merubah. Sedangkan kamu justru yang patut dirubah. ”
***
Malam berikutnya tak ada yang berubah, aku kembali menatapi pita-pita berbandul jengkol yang tergantung rapi di dinding kamarku. Riuh atribun meng-aplouse benda-benda itu saat dikalungkan ke leherku yang berkeringat masih bergemuruh setiap malam. Kemarin aku sangat bangga, tapi kini mataku sepet melihatnya. Tak sebanding rasanya perasan keringatku, erangan otot dan pekikku yang hanya terbalas jabat tangan pejabat sembari mengucap selamat!.
Jika waktu bisa kembali, ingin rasanya aku memilih duduk dirumah menonton televisi dari pada berada di televisi dan menjadi bahan sorak sorai.
” aku tidak mungkin kembali ”
Kenapa tidak?, bukankah kamu punya sayap?, kamu bisa terbang?
” sayapku bukan untuk manusia kerdil sepertimu, sayapku hanya untuk orang-orang yang gagah berjalan bersamaku ”
Serdadu maksudmu?
” bukan”
Lantas siapa ?
” mereka adalah orang-orang yang tidur tanpa mengharap mimpi dan terbangun tanpa mengharap angan ”
Ah, kamu picik..
” bukan aku yang picik. Tapi kamu yang picik ”
Kalau orang yang telah menancapkan patok bendera kita di negeri orang seperti aku kamu bilang picik, lantas kamu anggap apa mereka yang suka menjual patok untuk membuat batang korek api ke negeri tetangga ?
” mereka adalah pahlawan negerimu ”
Pahlawan.....?! kamu pura-pura gila atau benar-benar bodoh?
” kamu yang gila dan kamu pula yang bodoh. Berapa besar nilai yang telah mereka berikan hingga negerimu sekarang menjadi pintar? Berapa besar sumbu yang telah mereka ledakkan hingga negerimu terbangun dari mimpi ? mereka terlalu baik untuk kamu cela ”
Dan kamu ingin katakan aku terlalu buruk untuk kamu puji?
” Kalian memiliki tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan suatu kebaikan. Karena itu, jangan heran dan resah bila mendapati orang mengingkari kebaikan yang pernah kamu lakukan, mencampakkan budi baik yang pernah kamu tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah kamu persembahkan. Tak usah resah bila mereka sampai memusuhimu dengan sangat keji dan membencimu sampai mendarah daging, sebab semua itu mereka lakukan karena kamu telah berbuat baik kepada mereka ”
Aku hanya ingin diakui sebagai bagian dari nilai yang sudah pernah mengharumkan bangsaku.
” Mereka juga ingin kamu mengakui, bahwa terlalu mahal biaya untuk membuatmu jadi orang yang harum. Banyak hak-hak mereka yang telah kamu makan. Lihatlah mereka yang harus kelaparan, harus terjerembab di lubang aspal, harus terkatung di penampung sementara hak mereka telah habis untuk membayar kamar hotelmu. Keringatmu boleh mengering dalam sekejap, tapi cucuran mereka takkan secepat itu terhapuskan. ”
Selengkapnya......
Sertifikasi Guru?, Maybe Yes, Maybe No...

Bak petir disiang bolong saat sebuah kebijakan atau lebih pantas dibilang sebuah penghargaan pemicu pengharapan diketuk palu diperuntukkan bagi insan-insan pendidik bangsa, yaitu sertifikasi.
Apa itu sertifikasi? Undang Undang RI No 20 Tahun 2003, Undang Undang RI Nomor 14 Tahun 2005, Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 mangamanatkan guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, serifikat pendidik, sehat jasmani dan rokhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru harus memenuhi persyaratan kualifikasi akademik yaitu berpendidikan serendah rendahnya S1/DIV yang dibuktikan dengan ijazah sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal ditempat penugasan. Persyaratan kompetensi guru mencakup penguasaan kompetensi paedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui sertifikasi.
Menurut Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilakukan oleh LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah, serta dikoordinasikan Konsorsium Sertifikasi Guru ( KSG ). Unsur KSG itu sendiri terdiri dari LPTK, Ditjen DIKTI, dan Ditjen PMTK. Pelaksanaan sertifikasi bagi guru dalam jabatan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007, yakni dilakukan dalam bentuk portofolio, yang merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian tarhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mancakup : kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengembang profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.
Harapan kedepan, dengan adanya sertifikasi guru ini maka mutu guru dapat meningkat dibarengi dengan meningkatnya kesejahteraan guru, dan diharapkan pula dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bentuk peningkatan kesejahteraan guru berupa tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik, baik guru berstatus Pegawai Negeri Sipil maupun non-Pegawai Negeri Sipil. Hebat kan !
Jika kita melirik pada negara tetangga, semisal Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Denmark sertifikasi guru telah dilakukan secara ketat. Sementara itu di nageri ginseng Korea Selatan dan di negara Singapura, sertifikasi guru tidak dilakukan. Akan tetapi, pemerintah setempat melakukan kebijakan lain berupa kendali mutu dengan mengontrol secara ketat terhadap proses pendidikan dan kelulusan di lembaga penghasil guru. Namun semua itu tetap mengarah pada satu tujuan, yaitu upaya menghasilkan guru yang bermutu dan berkualitas guna menunjang peningkatan mutu pendidikan.
Apa yang terjadi di Indonesia? Dua sorotan tajam selalu tertuju pada mutu pendidikan, juga terhadap kesejahtaraan pendidik di Indonesia. Dalam sebuah seation Lomba Film Dokumenter yang dilakukan oleh salah satu stasiun televisi belum lama ini, kita dapat melihat sample realita kehidupan dunia pendidikan kita atau lebih luas lagi kehidupan aparatur di negara kita. Ada beberapa film dokumenter yang patut kita kaji, “ Suster Terapung “ misalnya, yang menggambarkan situasi dunia pelayanan kesehatan dalam keterbatasan sarana dan prasarana. “ Kepala Sekolahku Seorang Pemulung “, film ini berisi tentang sebuah dokumen yang menggambarkan seorang Kepala Sekolah berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sambilan sebagai seorang pemulung yang ternyata penghasilannya sebagai pemulung jauh diatas gajinya sebagi seorang Kepala Sekolah. Ada lagi film “ Ketika Sang Saka Tak Lagi Berkibar “, yang menggambarkan jauhnya perbedaan fasilitas pendidikan kita dengan Malaysia. Disana fasilitas Mess atau tempat tinggal sudah disediakan untuk sekolah setingkat Taman Kanak-kanak, dan masih banyak lagi contoh-contoh dokumenter lainnya sebagai kacamata penelusur kehidupan aparatur dan permasalahannya di negeri kita ini.
Apakah kondisi ini yang memicu pemerintah untuk mengetuk palu menggulirkan sertifikasi? Maybe Yes, Maybe No. Why? Karena kesejahteraan pendidik bukan finish akhir dari sertifikasi. Kesejahteraan yang ditawarkan kepada guru yang telah lolos sertifikasi harus dibayar mahal dengan peningkatan prestasi profesi untuk mendongkrak mutu dan kualitas pendidikan. Kesejahteraan pendidik merupakan metabolish terciptanya mutu pendidikan. Sertifikasi bukan hanya membuat heboh guru berlomba mencari komponen portofolio sebagai penunjang meraih sertifikat pendidik, tetapi bagaimana komponen tersebut mampu mengangkat nilai profesional pendidik itu sendiri. Dengan kata lain, dengan meningkatnya profesional pendidik maka diharapkan pendidik tersebut mampu mengaplikasikan dan menumbuh-kembangkan pendidikan.
Entah karena fenomena tuntutan profesi atau tergoda iming-iming kesejahteraan, banyak guru dari berbagai jenjang dan satuan pendidikan berlomba memburu skor pemenuhan standar batas kelulusan yaitu sebesar 850 atau 57 % dari perkiraan skor maksimum. Baik usaha pemenuhan kualifikasi akademik dengan melanjutkan sekolah ke Diploma IV / S1, ikut serta dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, usaha meraih prestasi akademik baik berupa lomba maupun karya akademik, usaha menciptakan sebuah karya yang menunjukkan adanya upaya dan hasil pengembangan profesi untuk pemenuhan komponen karya pengembang profesi, berpartisipasi dalam kegiatan ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya, berusaha mencari pengalaman organisasi di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan, maupun usaha meraih penghargaan yang diperoleh atas dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif, kualitatif, dan relevansi dengan bidang pendidikan. Semua dimaksudkan untuk memenuhi standar nilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran.
Apakah serangkaian kegiatan pemenuhan standar kelulusan tersebut mampu meningkatkan profesional guru hingga mampu meningkatkan mutu pendidikan kita? Maybe Yes, Maybe No.
Sudah banyak teman-teman guru yang lulus mandapatkan sertifikat pendidik dan berhak mendapatkan penghargaan tunjangan kendati pemberian penghargaan tersebut belum juga masuk ke rekening sesuai atruan yang berlaku, akan tetapi kita sudah dapat mengambil sample guna menilai populasi obyek kebijakan pemerintah menggulirkan progam pengendali mutu pendidikan di Indonesia melalui sertifikasi. Mungkin terlalu pagi, tetapi dari para pemegang sertifikat pendidik itulah kita dapat mengevaluasi leanding dari sertifikasi, tanpa mengesampingkan aktor-aktor pendidikan lainnya. Semoga kebijakkan ini mampu disikapi secara arif oleh semua pihak, agar bendera kecerdasan bangsa mampu berkibar sejajar dengan bangsa lain sebagai salah satu pilar atribut pembangunan bangsa, Maybe Yes, Maybe No. Selengkapnya......