Makhluk Ekstrim Hidup 1,6 Kilometer di Bawah Tanah
Integrated Ocean Drilling Program, Texas A&M University
Tanah dari lapisan kedalaman 1,6 kilometer dasar laut Newfoundland, Kanada diperlakukan dengan hati-hati agar tidak terkontaminasi udara sekitar.Selasa, 27 Mei 2008 | 23:16 WIB
JAKARTA, SELASA - Para ilmuwan menemukan organisme renik yang hidup 1,6 kilometer di bawah dasar laut di pantai Newfoundland, Kanada. Temuan ini makin menguatkan pendapat bahwa makhluk-makhluk bersel tunggal mungkin sanggup hidup di lingkungan sangat ekstrim di planet lain.
"Ini mungkin bukan hanya paling dalam namun juga organisme paling panas yang ditemukan jauh di endapan laut," ujar R John Parkes, seorang pakar geobiologi dari Universtas Cardiff, Wales, Inggris yang melaporkan temuannya dalam jurnal Science edisi terbaru. Meski bakteri juga pernah ditemukan di sebuah tambang emas Afrika Selatan pada kedalaman 2 kilometer, rekor organisme di endapan laut sebelumnya di kedalaman 842 meter.
Makhluk hidup bersel tunggal yang baru ditemukan ini mungkin memeroleh energi dari gas methan. Gas tersebut terjebak dalam lapisna batuan yang berumur 111 juta tahun dan suhunya antara 60-100 derajat Celcius.
"Tidak ada cahaya sama sekali, dan tidak ada oksigen di sana," ujar Parkes. Tempat hidupnya benar-benar lapisan batuan meskipun masih ada kandungan air.
Makhluk hidup seperti inilah yang mungkin masih hidup jauh di bagian tersembunyi planate-planet berbatu serupa Bumi, misalnya Mars. Wahana tanpa awak milik NASA, Phoenix Mars Lander, yang baru mendarat di Mars, Senin (26/5) pagi WIB, tengah mencari bukti-bukti es di bawah permukaan Mars yang mungkin mendukung kehidupan semacam ini.
Selengkapnya......
Showing posts with label IPTEK. Show all posts
Showing posts with label IPTEK. Show all posts
Thursday, June 5, 2008
sains
Badak Jawa Kenali Cahaya Inframerah?
WWF indonesia/BTNUK
Rekaman badak Jawa yang diambil dari video trap di Taman Nasional Ujung Kulon.
Artikel Terkait:
Perilaku Seks Badak Jawa Akan Dipelajari
Video Jebakan Berhasil Merekam Badak Jawa
Badak Jawa Akan Difilmkan
YABI Menjadi Satu-satunya Yayasan Pelestari Badak
Foto Badak Menyusui Terekam di TN Ujung Kulon
Jumat, 30 Mei 2008 | 20:57 WIB
JAKARTA, JUMAT - Para aktivis organisasi lingkungan World Wildlife Fund (WWF) terkesima saat melihat rekaman seekor badak Jawa yang menyeruduk kamera video trap yang mereka pasang. Bagaimana tidak sebab tak ada lampu di sekitarnya dan kamera merekam aktivitas badak menggunakan cahaya inframerah.
Pada salah satu rekaman yang diambil antara Maret-April 2008 itu, terlihat dua ekor badak di Taman Nasional Ujung Kulon, masing-masing seekor induk dan anaknya. Saat terakam keduanya tampak diam beberapa detik. Kemudian, induk badak mendekat ke arah kamera dan dalam waktu singkat langsuhg menyeruduknya.
Kamera pun mati dan rekaman berakhir. Beruntung, kamera yang dilindungi bungkus berbahan plastik tebal tahan air tersebut tidak rusak dan hanya lecet. Saat para aktivias menemukannya beberapa hari kemudian, kamera tersebut tergeletak di atas tanah.
"Mungkin karena jaraknya sangat dekat sehingga badak dapat melihat cahaya inframerah," ujar Adhi Rachmat Hariyadi, Site Manager WWF Indonesia di TN Ujung Kulon saat mengumumkan hasil rekaman video trap pertama kehidupan badak Jawa. Namun, sampai saat ini belum dapat dipastikan mengapa induk badak tersebut seperti tahu kalau sedang direkam.
Sebab, badak-badak lain yang juga terekam pada jarak yang relatif sama tidak tampak terganggu dengan kamera tersebut. Adhi mengatakan badak yang tengah menyusui anaknya mungkin lebih peka sehingga dapat mengenali gelombang cahaya inframerah.
Untuk memastikan hal tersebut membutuhkan penelitian-penelitian lebih lanjut. Badak Jawa termasuk hewan yang masih belum banyak diteliti. Hewan tersebut pemalu dan soliter sehingga bahkan sulit untuk ditemui langsung.
Mulai tahun ini WWF dan Taman Nasional Ujung Kulon akan fokus mempelajari lebih dalam perilaku badak Jawa, seperti saat berkubang, makan, ngasin atau mendatangi laut, dan perilaku seksualnya. Untuk itu, 4 kamera video trap akan dipasang di lokasi yang sering dikunjungi badak. Ke depan pengamatan juga akan dilakukan melalui rumah pohon dan perahu.
Menurut Profesor Hadi Alikodra, Deputi Direktur Program Spesies WWF, penelitian ilmiah untuk mengungkap peran badak Jawa terhadap manusia merupakan kunci pelestarian hewan langka tersebut. Selain manfaat ilmiah, badak Jawa juga potensial sebagai objek ekowisata khas Indonesia yang hasilnya dapat dirasakan langsung masyarakat di sekitar taman nasional.
Ujung Kulon merupakan benteng terakhir badak Jawa karena 90 persen populasi dunia ada di sana. Diperkirakan ada 50 hingga 60 ekor badak Jawa di TN Ujung Kulon dan hanya beberapa di Vietnam. Selengkapnya......
WWF indonesia/BTNUK
Rekaman badak Jawa yang diambil dari video trap di Taman Nasional Ujung Kulon.
Artikel Terkait:
Perilaku Seks Badak Jawa Akan Dipelajari
Video Jebakan Berhasil Merekam Badak Jawa
Badak Jawa Akan Difilmkan
YABI Menjadi Satu-satunya Yayasan Pelestari Badak
Foto Badak Menyusui Terekam di TN Ujung Kulon
Jumat, 30 Mei 2008 | 20:57 WIB
JAKARTA, JUMAT - Para aktivis organisasi lingkungan World Wildlife Fund (WWF) terkesima saat melihat rekaman seekor badak Jawa yang menyeruduk kamera video trap yang mereka pasang. Bagaimana tidak sebab tak ada lampu di sekitarnya dan kamera merekam aktivitas badak menggunakan cahaya inframerah.
Pada salah satu rekaman yang diambil antara Maret-April 2008 itu, terlihat dua ekor badak di Taman Nasional Ujung Kulon, masing-masing seekor induk dan anaknya. Saat terakam keduanya tampak diam beberapa detik. Kemudian, induk badak mendekat ke arah kamera dan dalam waktu singkat langsuhg menyeruduknya.
Kamera pun mati dan rekaman berakhir. Beruntung, kamera yang dilindungi bungkus berbahan plastik tebal tahan air tersebut tidak rusak dan hanya lecet. Saat para aktivias menemukannya beberapa hari kemudian, kamera tersebut tergeletak di atas tanah.
"Mungkin karena jaraknya sangat dekat sehingga badak dapat melihat cahaya inframerah," ujar Adhi Rachmat Hariyadi, Site Manager WWF Indonesia di TN Ujung Kulon saat mengumumkan hasil rekaman video trap pertama kehidupan badak Jawa. Namun, sampai saat ini belum dapat dipastikan mengapa induk badak tersebut seperti tahu kalau sedang direkam.
Sebab, badak-badak lain yang juga terekam pada jarak yang relatif sama tidak tampak terganggu dengan kamera tersebut. Adhi mengatakan badak yang tengah menyusui anaknya mungkin lebih peka sehingga dapat mengenali gelombang cahaya inframerah.
Untuk memastikan hal tersebut membutuhkan penelitian-penelitian lebih lanjut. Badak Jawa termasuk hewan yang masih belum banyak diteliti. Hewan tersebut pemalu dan soliter sehingga bahkan sulit untuk ditemui langsung.
Mulai tahun ini WWF dan Taman Nasional Ujung Kulon akan fokus mempelajari lebih dalam perilaku badak Jawa, seperti saat berkubang, makan, ngasin atau mendatangi laut, dan perilaku seksualnya. Untuk itu, 4 kamera video trap akan dipasang di lokasi yang sering dikunjungi badak. Ke depan pengamatan juga akan dilakukan melalui rumah pohon dan perahu.
Menurut Profesor Hadi Alikodra, Deputi Direktur Program Spesies WWF, penelitian ilmiah untuk mengungkap peran badak Jawa terhadap manusia merupakan kunci pelestarian hewan langka tersebut. Selain manfaat ilmiah, badak Jawa juga potensial sebagai objek ekowisata khas Indonesia yang hasilnya dapat dirasakan langsung masyarakat di sekitar taman nasional.
Ujung Kulon merupakan benteng terakhir badak Jawa karena 90 persen populasi dunia ada di sana. Diperkirakan ada 50 hingga 60 ekor badak Jawa di TN Ujung Kulon dan hanya beberapa di Vietnam. Selengkapnya......
Labels:
IPTEK
Sunday, May 25, 2008
Artikel:
Menembus SPMB dengan Jurus 3K
Judul: Menembus SPMB dengan Jurus 3K
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.
Nama & E-mail (Penulis): arief mangkoesapoetra
Saya Guru di SMAN 21 BANDUN G
Topik: Bimbingan Belajar/Tes
Tanggal: 25 Agustus 2004
STRATEGI TEMBUS SPMB DENGAN JURUS 3K
Oleh :
ARIEF ACHMAD
Ujian akhir nasional (UAN) telah usai dan dari 1.891.339 peserta ujian akhir nasional (UAN) sekolah menengah atas/madrasah (SMA/MA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) tahun 2004, hanya 88,55 persen (1.674.781 peserta) yang berhasil melewati nilai standar kelulusan 4,01 ke atas (¡Ý 4,01).
Setiap lulusan SMA/MA dan SMK (baca : sekolah menengah tingkat atas¡ªSMTA) berhak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, perguruan tinggi (PT), baik PT negeri (PTN) maupun swasta (PTS). Akan tetapi, seperti sudah menjadi tradisi tahunan, para siswa umumnya berbondong-bondong mendaftarkan dirinya menjadi calon mahasiswa PTN melalui jalur sistem penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Walaupun untuk itu terkadang mereka bertindak tidak rasional dan proporsional.
Tidak sedikit calon mahasiswa mengikuti SPMB berdasarkan ¡°mode¡± belaka, ikut-ikutan, mengikuti arus teman. Pilihan program studi mereka di PTN pada galibnya adalah jurusan-jurusan atau fakultas-fakultas ¡°favorit¡± yang diminati oleh banyak calon mahasiswa. Umpamanya, kedokteran umum, arsitektur, teknik informatika, komputer, ekonomi, manajemen, akuntansi, sastra Inggris, dan lain-lain. Padahal untuk dapat diterima di situ dibutuhkan nilai ujian yang tinggi, mengingat banyaknya peminat. Jadi, semakin banyak calon mahasiswa yang meminati suatu program studi di PTN, maka akan semakin tinggi pula nilai ujian yang harus diperolehnya untuk diterima di sana. Begitu pula sebaliknya.
Seluruh PTN di Indonesia yang menyelenggarakan SPMB hanya akan menerima 86.607 mahasiswa baru yang tersebar pada 1.615 program studi (Kompas, 11 Juni 2004). Kalau lulusan SMTA yang ikut SPMB diasumsikan sekira setengah juta orang, berarti yang tidak lulus SPMB jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang lolos.
Demikian sulitkah untuk menembus SPMB? Tidak juga, kalau calon mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menerapkan strategi tembus SPMB dengan jurus 3K, yakni Kesempatan, Kemampuan, dan Kemauan, sebagaimana dielaborasi di bawah ini.
Kesempatan
Pada hakikatnya, menjadi peserta SPMB adalah suatu kesempatan, suatu peluang yang sudah semestinya disikapi secara positif oleh para siswa lulusan SMTA.
Setiap lulusan SMTA bisa mengikuti SPMB sampai tiga kali. Sewaktu baru lulus, setahun setelah lulus, dan dua tahun setelah lulus. Bagi siswa lulusan 2004 , SPMB tahun ini adalah kesempatan pertama untuknya dan jika tidak diterima, masih ada dua kesempatan lagi (2005, 2006). Bagi lulusan 2003, jika tidak diterima tahun ini, maka tinggal satu kesempatan (2005). Dan bagi lulusan 2002, tahun sekarang merupakan kesempatan terakhir untuknya, jika tidak diterima, maka hilanglah peluang menjadi mahasiswa PTN melalui SPMB.
SPMB 2004 diikuti 49 PTN seluruh Indonesia yang terbagi ke dalam tiga regional, yakni regional I meliputi PT di wilayah Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat; regional II : Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur; dan regional III : Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. (Data lengkap PTN per regional dapat dilihat di Buku Petunjuk SPMB 2004 atau di http://www.spmb.or.id)
SPMB diselenggarakan di kota-kota di mana PTN berada dan di kota-kota lain yang oleh panitia dianggap strategis. Seleksi ujian tersebut diselenggarakan pada saat yang bersamaan dan menggunakan soal yang sama atau setara. Peserta ujian disarankan memilih tempat ujian yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
Tempat ujian tidak merupakan kriteria penerimaan, sehingga peserta ujian tidak perlu mengikuti ujian di tempat program studi atau universitas yang menjadi pilihannya. Peserta ujian dapat memilih program studi di setiap PTN, dengan persyaratan salah satu pilihannya berada di regional di mana peserta mengikuti ujian; pilihlah tempat ujian yang paling dekat atau paling efisien. Lokasi ujian tidak menjadi pertimbangan diterima atau tidak diterimanya peserta di PTN, tetapi lebih ditentukan oleh nilai SPMB yang bersangkutan dan nilai-nilai dari pesaing di program studi pilihannya.
SPMB mempermudah siswa untuk bisa mendaftar dan diterima di PTN yang diminatinya. Mereka cukup sekali ujian dan memilih beberapa PTN tanpa harus pergi dan menginap ke lokasi di mana PTN pilihannya berada. Mereka hanya perlu mengadakan satu kali perjalanan setelah pasti diterima di PTN pilihannya.
Jadi, untuk dapat diterima di PTN, pilihlah program studi yang tidak favorit, yang berdaya saing rendah. Artinya, calon mahasiswa yang meminatinya tidak terlalu banyak. Strategi yang direkomendasikan di sini : pilihan ke-1 program studi nonfavorit, pilihan ke-2 program studi nonfavorit, dan/atau pilihan ke-3 (untuk yang mengikuti IPC) program studi nonfavorit juga.
Kemampuan
Pada dasarnya, SPMB adalah suatu proses seleksi akademis yang mencakup tiga kelompok ujian : IPA, IPS, dan IPC/Campuran (IPA dan IPS). Setiap lulusan SMTA, jurusan apa saja, boleh mengikuti SPMB kelompok IPA, IPS, atau IPC. Lulusan SMA jurusan IPS yang mengikuti SPMB kelompok IPA juga boleh memilih program studi apa saja di kelompok IPA, termasuk Kedokteran, Komputer, Teknik, Pertanian, dsb.
Secara umum, terdapat tiga mata ujian : kemampuan kuantitatif dan kemampuan verbal sebanyak 75 soal (yaitu matematika dasar, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, masing-masing 25 soal), kemampuan IPA 75 soal (matematika, biologi, fisika, kimia, dan IPA terpadu, masing-masing 15 soal), dan kemampuan IPS 75 soal (sejarah, geografi, ekonomi¡ªmasing-masing 20 soal¡ª, dan IPS terpadu 15 soal). Peserta ujian harus mampu mengalokasikan waktu dengan jumlah soal yang tersedia, sehingga tidak ada alasan kekurangan waktu pengerjaan soal. Perlu dicatat, kemampuan verbal waktunya 180 menit, kemampuan IPA 150 menit, dan kemampuan IPS 90 menit.
Oleh karena setiap pelajaran mempunyai bobot yang sama, maka kerjakanlah semua soal ujian. Kalau peserta SPMB sama sekali tidak mengerjakan soal salah satu mata pelajaran, maka ia akan mendapat ¡°nilai-mati¡± untuk pelajaran tersebut. Sungguhpun nilai yang lain bagus sekali, kalau ada ¡°nilai mati¡± maka ia tidak akan diterima!.
Semua peserta SPMB akan diurutkan menurut nilai ujiannya, kemudian dialokasikan pada program studi pilihannya, dengan ketentuan bahwa peserta yang lebih baik mendapat prioritas untuk dialokasikan lebih dahulu. Jika masih ada tempat di pilihan pertama, ia akan diterima di program studi pilihan pertama. Jika tempat pada program studi pilihan pertama telah penuh, dan masih ada program studi pilihan kedua, ia akan diterima pada program studi pilihan kedua. Jika tempat pada program studi pilihan pertama dan program studi pilihan kedua telah penuh, maka ia tidak akan diterima walaupun nilainya masih cukup tinggi. Bagi yang memilih kelompok IPC dengan tiga pilihan, maka pilihan ketiga akan diproses dengan cara yang sama.
Pendek kata, SPMB tidak mengenal passing grade. Setiap program studi menerima calon mahasiswa sesuai urutan nilainya, nilai yang lebih baik mendapat prioritas untuk diterima lebih dulu, dan penerimaan berhenti setelah daya tampung terpenuhi.
Jadi, kalau calon mahasiwa memilih program studi favorit, maka ia harus berupaya untuk meraih nilai ujian maksimal. Dengan asumsi, apabila nilai ujiannya tinggi, maka akan dapat mengalahkan para pesaingnya di program studi itu.
Kemauan
Pemilihan program studi di PTN, idealnya, selain karena calon mahasiswa mampu menaklukkan soal-soal ujian SPMB juga harus selaras dengan minat dan bakatnya, sehingga ia diharapkan sukses menyelesaikan studinya di PTN. Namun, dalam SPMB, melalui uji keterampilan program studi keolahragaan dan kesenian saja minat dan bakat calon mahasiswa dapat diketahui. Sebab, berdasarkan Keputusan Mendiknas No. 173/U/2001 tentang Penerimaan Calon Mahasiswa pada Perguruan Tinggi, SPMB hanya bertujuan untuk memilih calon mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan akademik untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di PTN sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan. Dari sini, domain afektif dan psikomotor (menurut Taxonomy Bloom)¡ªkecuali untuk program studi keolahragaan dan kesenian¡ªtidak terungkapkan.
SPMB selain menafikan minat dan bakat calon mahasiswa juga tidak mengungkap perilakunya selama bersekolah di SMTA (misalnya : rajin, malas, tukang menyontek, sering kesiangan/terlambat, aktivis, trouble maker, dan lain-lain perbuatan positif maupun negatif siswa).
Berdasarkan uraian di atas, dalam mengikuti SPMB, calon mahasiswa hendaknya menggunakan hati nuraninya. Maksudnya, jangan menjadikan PTN sebagai ¡°tujuan¡±, tetapi sebagai ¡°alat¡± belaka untuk mencapai tujuan yang riil yakni dunia kerja atau masa depan.
Adalah wajar nian tatkala calon mahasiswa memilih program studi favorit di PTN, karena program-program studi itu memang menjanjikan dunia kerja atau masa depan yang relatif lebih baik; dengan gaji, penghasilan, atau kesejahteraan yang layak untuk hidup.
Jadi, biarpun gagal diterima di kedokteran umum, arsitektur, teknik informatika, komputer, ekonomi, manajemen, akuntansi, sastra Inggris, dan lain-lain program studi ¡°favorit¡± di PTN; hal itu bukanlah akhir dari segalanya. Toh, masih banyak PTS-PTS yang membuka program-program studi sejenis dengan kualitas pembelajaran yang tidak kalah dengan PTN dan biaya pendidikan yang cukup terjangkau calon mahasiswa. Lalu, mengapa tetap ngotot ke PTN, kalau tujuan utamanya adalah meraih masa depan yang lebih baik?. NNN Penulis, 10 tahun aktif di berbagai Bimbel di Bandung; kini tenaga fungsional di SMAN 21 Bandung NNN
Saya arief mangkoesapoetra setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). . Selengkapnya......
Menembus SPMB dengan Jurus 3K
Judul: Menembus SPMB dengan Jurus 3K
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.
Nama & E-mail (Penulis): arief mangkoesapoetra
Saya Guru di SMAN 21 BANDUN G
Topik: Bimbingan Belajar/Tes
Tanggal: 25 Agustus 2004
STRATEGI TEMBUS SPMB DENGAN JURUS 3K
Oleh :
ARIEF ACHMAD
Ujian akhir nasional (UAN) telah usai dan dari 1.891.339 peserta ujian akhir nasional (UAN) sekolah menengah atas/madrasah (SMA/MA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) tahun 2004, hanya 88,55 persen (1.674.781 peserta) yang berhasil melewati nilai standar kelulusan 4,01 ke atas (¡Ý 4,01).
Setiap lulusan SMA/MA dan SMK (baca : sekolah menengah tingkat atas¡ªSMTA) berhak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, perguruan tinggi (PT), baik PT negeri (PTN) maupun swasta (PTS). Akan tetapi, seperti sudah menjadi tradisi tahunan, para siswa umumnya berbondong-bondong mendaftarkan dirinya menjadi calon mahasiswa PTN melalui jalur sistem penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Walaupun untuk itu terkadang mereka bertindak tidak rasional dan proporsional.
Tidak sedikit calon mahasiswa mengikuti SPMB berdasarkan ¡°mode¡± belaka, ikut-ikutan, mengikuti arus teman. Pilihan program studi mereka di PTN pada galibnya adalah jurusan-jurusan atau fakultas-fakultas ¡°favorit¡± yang diminati oleh banyak calon mahasiswa. Umpamanya, kedokteran umum, arsitektur, teknik informatika, komputer, ekonomi, manajemen, akuntansi, sastra Inggris, dan lain-lain. Padahal untuk dapat diterima di situ dibutuhkan nilai ujian yang tinggi, mengingat banyaknya peminat. Jadi, semakin banyak calon mahasiswa yang meminati suatu program studi di PTN, maka akan semakin tinggi pula nilai ujian yang harus diperolehnya untuk diterima di sana. Begitu pula sebaliknya.
Seluruh PTN di Indonesia yang menyelenggarakan SPMB hanya akan menerima 86.607 mahasiswa baru yang tersebar pada 1.615 program studi (Kompas, 11 Juni 2004). Kalau lulusan SMTA yang ikut SPMB diasumsikan sekira setengah juta orang, berarti yang tidak lulus SPMB jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang lolos.
Demikian sulitkah untuk menembus SPMB? Tidak juga, kalau calon mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menerapkan strategi tembus SPMB dengan jurus 3K, yakni Kesempatan, Kemampuan, dan Kemauan, sebagaimana dielaborasi di bawah ini.
Kesempatan
Pada hakikatnya, menjadi peserta SPMB adalah suatu kesempatan, suatu peluang yang sudah semestinya disikapi secara positif oleh para siswa lulusan SMTA.
Setiap lulusan SMTA bisa mengikuti SPMB sampai tiga kali. Sewaktu baru lulus, setahun setelah lulus, dan dua tahun setelah lulus. Bagi siswa lulusan 2004 , SPMB tahun ini adalah kesempatan pertama untuknya dan jika tidak diterima, masih ada dua kesempatan lagi (2005, 2006). Bagi lulusan 2003, jika tidak diterima tahun ini, maka tinggal satu kesempatan (2005). Dan bagi lulusan 2002, tahun sekarang merupakan kesempatan terakhir untuknya, jika tidak diterima, maka hilanglah peluang menjadi mahasiswa PTN melalui SPMB.
SPMB 2004 diikuti 49 PTN seluruh Indonesia yang terbagi ke dalam tiga regional, yakni regional I meliputi PT di wilayah Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat; regional II : Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur; dan regional III : Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. (Data lengkap PTN per regional dapat dilihat di Buku Petunjuk SPMB 2004 atau di http://www.spmb.or.id)
SPMB diselenggarakan di kota-kota di mana PTN berada dan di kota-kota lain yang oleh panitia dianggap strategis. Seleksi ujian tersebut diselenggarakan pada saat yang bersamaan dan menggunakan soal yang sama atau setara. Peserta ujian disarankan memilih tempat ujian yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
Tempat ujian tidak merupakan kriteria penerimaan, sehingga peserta ujian tidak perlu mengikuti ujian di tempat program studi atau universitas yang menjadi pilihannya. Peserta ujian dapat memilih program studi di setiap PTN, dengan persyaratan salah satu pilihannya berada di regional di mana peserta mengikuti ujian; pilihlah tempat ujian yang paling dekat atau paling efisien. Lokasi ujian tidak menjadi pertimbangan diterima atau tidak diterimanya peserta di PTN, tetapi lebih ditentukan oleh nilai SPMB yang bersangkutan dan nilai-nilai dari pesaing di program studi pilihannya.
SPMB mempermudah siswa untuk bisa mendaftar dan diterima di PTN yang diminatinya. Mereka cukup sekali ujian dan memilih beberapa PTN tanpa harus pergi dan menginap ke lokasi di mana PTN pilihannya berada. Mereka hanya perlu mengadakan satu kali perjalanan setelah pasti diterima di PTN pilihannya.
Jadi, untuk dapat diterima di PTN, pilihlah program studi yang tidak favorit, yang berdaya saing rendah. Artinya, calon mahasiswa yang meminatinya tidak terlalu banyak. Strategi yang direkomendasikan di sini : pilihan ke-1 program studi nonfavorit, pilihan ke-2 program studi nonfavorit, dan/atau pilihan ke-3 (untuk yang mengikuti IPC) program studi nonfavorit juga.
Kemampuan
Pada dasarnya, SPMB adalah suatu proses seleksi akademis yang mencakup tiga kelompok ujian : IPA, IPS, dan IPC/Campuran (IPA dan IPS). Setiap lulusan SMTA, jurusan apa saja, boleh mengikuti SPMB kelompok IPA, IPS, atau IPC. Lulusan SMA jurusan IPS yang mengikuti SPMB kelompok IPA juga boleh memilih program studi apa saja di kelompok IPA, termasuk Kedokteran, Komputer, Teknik, Pertanian, dsb.
Secara umum, terdapat tiga mata ujian : kemampuan kuantitatif dan kemampuan verbal sebanyak 75 soal (yaitu matematika dasar, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, masing-masing 25 soal), kemampuan IPA 75 soal (matematika, biologi, fisika, kimia, dan IPA terpadu, masing-masing 15 soal), dan kemampuan IPS 75 soal (sejarah, geografi, ekonomi¡ªmasing-masing 20 soal¡ª, dan IPS terpadu 15 soal). Peserta ujian harus mampu mengalokasikan waktu dengan jumlah soal yang tersedia, sehingga tidak ada alasan kekurangan waktu pengerjaan soal. Perlu dicatat, kemampuan verbal waktunya 180 menit, kemampuan IPA 150 menit, dan kemampuan IPS 90 menit.
Oleh karena setiap pelajaran mempunyai bobot yang sama, maka kerjakanlah semua soal ujian. Kalau peserta SPMB sama sekali tidak mengerjakan soal salah satu mata pelajaran, maka ia akan mendapat ¡°nilai-mati¡± untuk pelajaran tersebut. Sungguhpun nilai yang lain bagus sekali, kalau ada ¡°nilai mati¡± maka ia tidak akan diterima!.
Semua peserta SPMB akan diurutkan menurut nilai ujiannya, kemudian dialokasikan pada program studi pilihannya, dengan ketentuan bahwa peserta yang lebih baik mendapat prioritas untuk dialokasikan lebih dahulu. Jika masih ada tempat di pilihan pertama, ia akan diterima di program studi pilihan pertama. Jika tempat pada program studi pilihan pertama telah penuh, dan masih ada program studi pilihan kedua, ia akan diterima pada program studi pilihan kedua. Jika tempat pada program studi pilihan pertama dan program studi pilihan kedua telah penuh, maka ia tidak akan diterima walaupun nilainya masih cukup tinggi. Bagi yang memilih kelompok IPC dengan tiga pilihan, maka pilihan ketiga akan diproses dengan cara yang sama.
Pendek kata, SPMB tidak mengenal passing grade. Setiap program studi menerima calon mahasiswa sesuai urutan nilainya, nilai yang lebih baik mendapat prioritas untuk diterima lebih dulu, dan penerimaan berhenti setelah daya tampung terpenuhi.
Jadi, kalau calon mahasiwa memilih program studi favorit, maka ia harus berupaya untuk meraih nilai ujian maksimal. Dengan asumsi, apabila nilai ujiannya tinggi, maka akan dapat mengalahkan para pesaingnya di program studi itu.
Kemauan
Pemilihan program studi di PTN, idealnya, selain karena calon mahasiswa mampu menaklukkan soal-soal ujian SPMB juga harus selaras dengan minat dan bakatnya, sehingga ia diharapkan sukses menyelesaikan studinya di PTN. Namun, dalam SPMB, melalui uji keterampilan program studi keolahragaan dan kesenian saja minat dan bakat calon mahasiswa dapat diketahui. Sebab, berdasarkan Keputusan Mendiknas No. 173/U/2001 tentang Penerimaan Calon Mahasiswa pada Perguruan Tinggi, SPMB hanya bertujuan untuk memilih calon mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan akademik untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di PTN sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan. Dari sini, domain afektif dan psikomotor (menurut Taxonomy Bloom)¡ªkecuali untuk program studi keolahragaan dan kesenian¡ªtidak terungkapkan.
SPMB selain menafikan minat dan bakat calon mahasiswa juga tidak mengungkap perilakunya selama bersekolah di SMTA (misalnya : rajin, malas, tukang menyontek, sering kesiangan/terlambat, aktivis, trouble maker, dan lain-lain perbuatan positif maupun negatif siswa).
Berdasarkan uraian di atas, dalam mengikuti SPMB, calon mahasiswa hendaknya menggunakan hati nuraninya. Maksudnya, jangan menjadikan PTN sebagai ¡°tujuan¡±, tetapi sebagai ¡°alat¡± belaka untuk mencapai tujuan yang riil yakni dunia kerja atau masa depan.
Adalah wajar nian tatkala calon mahasiswa memilih program studi favorit di PTN, karena program-program studi itu memang menjanjikan dunia kerja atau masa depan yang relatif lebih baik; dengan gaji, penghasilan, atau kesejahteraan yang layak untuk hidup.
Jadi, biarpun gagal diterima di kedokteran umum, arsitektur, teknik informatika, komputer, ekonomi, manajemen, akuntansi, sastra Inggris, dan lain-lain program studi ¡°favorit¡± di PTN; hal itu bukanlah akhir dari segalanya. Toh, masih banyak PTS-PTS yang membuka program-program studi sejenis dengan kualitas pembelajaran yang tidak kalah dengan PTN dan biaya pendidikan yang cukup terjangkau calon mahasiswa. Lalu, mengapa tetap ngotot ke PTN, kalau tujuan utamanya adalah meraih masa depan yang lebih baik?. NNN Penulis, 10 tahun aktif di berbagai Bimbel di Bandung; kini tenaga fungsional di SMAN 21 Bandung NNN
Saya arief mangkoesapoetra setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). . Selengkapnya......
Labels:
IPTEK
Paradigma Pengembangan Sekolah Unggulan
Sekolah Unggulan dapat diartikan sebagai sekolah bermutu namu dalam penerapan saya bahkan penerapan semua kalangan bahwa dalam kategori unggulan tersirat harapan-harapan terhadap apa yang dapat diharapkan dimiliki oleh siswa setelah keluar dari sekolah unggulan. Harapan itu tak lain adalah sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan oleh siswa itu sendiri yaitu sejauh mana keluaran (output) sekolah itu memiliki kemampuan intelektual, moral dan keterampilan yang dapat berguna bagi masyarakat.
Untuk menyikapi semua itu, kita harus mengubah system pembelajaran yang selama ini berlaku disemua tingkat pendidikan yaitu adanya keterkungkungan siswa dana guru dalam melaksanakan PBM, saya selaku pengajar di SMA Negeri 1 Bulukumba telah merubah sisten itu sejak januari 2006. Sistem yang saya maksud adalah system dimana Siswa dan Guru dikejar dengan pencapaian target kurikulum dalam artian guru dituntut menyelesaikan semua materi yang ada dalam kurikulum tanpa memperhatikan ketuntasan belajar siswa, disamping itu adanya anggapan bahwa belajr adalah berupa transformasi pengetahuan (Transfer of knowlwdge).
Pada sisi unggulan semua system itu seharusnya tidak diterapkan agar apa yang menjadi harapan siswa, orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan kita selaku pengajar dan pendidik dapat tercapai. Mari kita sama-sama merubah semua itu dengan mengembangkan Learning How to Learn (Murphi,1992) atau belajar bagaimana belajar, artinya belajar itu tidak hanya berupa transformasi pengetahuan tetapi jauh lebih penting adalah mempersiapkan siswa belajar lebih jauh dari sumber-sumber yang mereka temukan dari pengalaman sendiri, pengalaman orang lain maupun dari lingkungan dimana dia tumbuh guna mengembangkan potensi dan perkembangan dirinya atau dengan kata lain belajar pada hakekatnya bagaimana mengartikulasikan pengetahu an-pengetahuan siswa kedalam kenyataan hidup yang sedang dan yang akan dihadapi oleh siswa.
Secara pribadi dalam hal mengembangkan sekolah kearah sekolah unggulan (sekolah bermutu) disamping perubahan-perubahan tersebut masih banyak hal yang perlu diperhatikan diantaranya : Sarana dan prasarana, Menejmen persekolahan,Visi dan Misi sekolah, Profesionalisme Guru dan lain-lain. Untuk Profesionalisme bukan berarti menguasai sebagian besar pengetahuan tatapi lebih penting adalah bagaimana membuat siswa dapat belajar, guru dan siswa disederhanakan agat tidat tercipta gep, adanya perilaku guru yang membuat siswa tersisih atau terpisah dari gurunya, guru dan siswa harus terjalin komunikasi agar dalam proses pembelajaran ada keterbukaan siswa mengeritik dan mengeluarkan pendapat. Sebab bukan tidak mungkin dengan pengaruh perkembangan teknologi siswa lebih pintar dari gurunya.
Itulah asumsi saya mengenai pengembangan sekolah unggulan, mudah-mudahan, pemerintah termasuk kawan-kawan seprofesi dapat menerapka hal tersebut bahkan mengembangkan lebih jauh lagi.
___________
Drs. Abdul Hadis -- . Selengkapnya......
Sekolah Unggulan dapat diartikan sebagai sekolah bermutu namu dalam penerapan saya bahkan penerapan semua kalangan bahwa dalam kategori unggulan tersirat harapan-harapan terhadap apa yang dapat diharapkan dimiliki oleh siswa setelah keluar dari sekolah unggulan. Harapan itu tak lain adalah sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan oleh siswa itu sendiri yaitu sejauh mana keluaran (output) sekolah itu memiliki kemampuan intelektual, moral dan keterampilan yang dapat berguna bagi masyarakat.
Untuk menyikapi semua itu, kita harus mengubah system pembelajaran yang selama ini berlaku disemua tingkat pendidikan yaitu adanya keterkungkungan siswa dana guru dalam melaksanakan PBM, saya selaku pengajar di SMA Negeri 1 Bulukumba telah merubah sisten itu sejak januari 2006. Sistem yang saya maksud adalah system dimana Siswa dan Guru dikejar dengan pencapaian target kurikulum dalam artian guru dituntut menyelesaikan semua materi yang ada dalam kurikulum tanpa memperhatikan ketuntasan belajar siswa, disamping itu adanya anggapan bahwa belajr adalah berupa transformasi pengetahuan (Transfer of knowlwdge).
Pada sisi unggulan semua system itu seharusnya tidak diterapkan agar apa yang menjadi harapan siswa, orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan kita selaku pengajar dan pendidik dapat tercapai. Mari kita sama-sama merubah semua itu dengan mengembangkan Learning How to Learn (Murphi,1992) atau belajar bagaimana belajar, artinya belajar itu tidak hanya berupa transformasi pengetahuan tetapi jauh lebih penting adalah mempersiapkan siswa belajar lebih jauh dari sumber-sumber yang mereka temukan dari pengalaman sendiri, pengalaman orang lain maupun dari lingkungan dimana dia tumbuh guna mengembangkan potensi dan perkembangan dirinya atau dengan kata lain belajar pada hakekatnya bagaimana mengartikulasikan pengetahu an-pengetahuan siswa kedalam kenyataan hidup yang sedang dan yang akan dihadapi oleh siswa.
Secara pribadi dalam hal mengembangkan sekolah kearah sekolah unggulan (sekolah bermutu) disamping perubahan-perubahan tersebut masih banyak hal yang perlu diperhatikan diantaranya : Sarana dan prasarana, Menejmen persekolahan,Visi dan Misi sekolah, Profesionalisme Guru dan lain-lain. Untuk Profesionalisme bukan berarti menguasai sebagian besar pengetahuan tatapi lebih penting adalah bagaimana membuat siswa dapat belajar, guru dan siswa disederhanakan agat tidat tercipta gep, adanya perilaku guru yang membuat siswa tersisih atau terpisah dari gurunya, guru dan siswa harus terjalin komunikasi agar dalam proses pembelajaran ada keterbukaan siswa mengeritik dan mengeluarkan pendapat. Sebab bukan tidak mungkin dengan pengaruh perkembangan teknologi siswa lebih pintar dari gurunya.
Itulah asumsi saya mengenai pengembangan sekolah unggulan, mudah-mudahan, pemerintah termasuk kawan-kawan seprofesi dapat menerapka hal tersebut bahkan mengembangkan lebih jauh lagi.
___________
Drs. Abdul Hadis -- . Selengkapnya......
Labels:
IPTEK
Pendidikan Bermutu di tengah Pentas Budaya Instan
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan.
Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet. Maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam, serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama.
Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Alias malas. Yang penting cepat !. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil. Proses tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan. Jadilah, banyak orang korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, ijazah aspal, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu? Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dicoba?. Lebih lanjut, sekarang ini sudah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. Orang makin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain. Untuk mengejar kesuksesannya, orang tak ragu-ragu mengorbankan orang lain.
Pendidikan Cenderung Dibisniskan.
Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi.
Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?
Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.
Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.
Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.
Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.
Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja "mengabaikan" bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, "Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus."
Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.
___________
Tata Sutabri S.Kom, MM -- Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA, Pemerhati Dunia Pendidikan TI, Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969, e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id . Selengkapnya......
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan.
Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet. Maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam, serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama.
Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Alias malas. Yang penting cepat !. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil. Proses tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan. Jadilah, banyak orang korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, ijazah aspal, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu? Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dicoba?. Lebih lanjut, sekarang ini sudah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. Orang makin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain. Untuk mengejar kesuksesannya, orang tak ragu-ragu mengorbankan orang lain.
Pendidikan Cenderung Dibisniskan.
Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi.
Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?
Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.
Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.
Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.
Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.
Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja "mengabaikan" bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, "Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus."
Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.
___________
Tata Sutabri S.Kom, MM -- Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA, Pemerhati Dunia Pendidikan TI, Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969, e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id . Selengkapnya......
Labels:
IPTEK
Komersialisasi Pendidikan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan suatu wadah yang digunakan untuk Research & Development (R&D) serta arena penyemaian manusia baru untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian serta kompetensi keilmuan sesuai bidangnya. Secara umum dunia pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian.
Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar hadiah & gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Semoga masyarakat dan orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya tidak terjebak pada kondisi tersebut dan lebih bijak dalam memilih perguruan tinggi, sehingga putra-putrinya tidak terkesan asal kuliah.
Ditengah besarnya angka pengangguran di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 45 juta orang, langkah yang harus ditempuh adalah mencari pendidikan yang baik dan bermutu yang dibutuhkan pasar. Bukan hanya murah saja dan asal. Tidak dipungkiri lagi bahwa selama ini, dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk mengisi kebutuhan pekerjaan. Bila membuka lowongan, yang melamar biasanya banyak, namun hanya beberapa yang lulus seleksi.
Pasalnya jarang ada calon pegawai lulusan perguruan tinggi atau sekolah, yang memiliki keahlian yang dibutuhkan, karena kebanyakan berkemampuan rata-rata untuk semua bidang. Jarang ada yang menguasai bidang-bidang yang spesifik. Hal ini tentunya menyulitkan pihak pencari kerja, karena harus mendidik calon karyawan dulu sebelum mulai bekerja.
Sebagian besar perguruan tinggi atau sekolah mendidik tenaga ahli madya (tamatan D.III) tetapi keahliannya tidak spesifik.
Lebih parah lagi, bahkan ada PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Ini adalah cermin dari proses PEMBODOHAN BANGSA bukan mencerdaskan BANGSA. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang baik & berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Selain itu pula, apa yang menjadi barometer yang menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi? Untuk saat ini opini publik dan beberapa kalangan masyarakat bahwa eksistensi sebuah Perguruan Tinggi dilihat dari kuantitas mahasiswanya bukan kualitasnnya. Nah ini jelas sudah terlihat faktanya bahwa pendidikan di Indonesia hanya menjadi komoditi bisnis semata.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, harapan kami semoga komersialisasi pendidikan tinggi tidak menjadi sebuah komoditi bisnis semata, akan tetapi menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan Juga Bangsa Indonesia.
___________
Tata Sutabri S.Kom, MM -- Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA, Pemerhati Dunia Pendidikan TI, Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969, e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id . Selengkapnya......
Perguruan tinggi merupakan suatu wadah yang digunakan untuk Research & Development (R&D) serta arena penyemaian manusia baru untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian serta kompetensi keilmuan sesuai bidangnya. Secara umum dunia pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian.
Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar hadiah & gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Semoga masyarakat dan orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya tidak terjebak pada kondisi tersebut dan lebih bijak dalam memilih perguruan tinggi, sehingga putra-putrinya tidak terkesan asal kuliah.
Ditengah besarnya angka pengangguran di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 45 juta orang, langkah yang harus ditempuh adalah mencari pendidikan yang baik dan bermutu yang dibutuhkan pasar. Bukan hanya murah saja dan asal. Tidak dipungkiri lagi bahwa selama ini, dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk mengisi kebutuhan pekerjaan. Bila membuka lowongan, yang melamar biasanya banyak, namun hanya beberapa yang lulus seleksi.
Pasalnya jarang ada calon pegawai lulusan perguruan tinggi atau sekolah, yang memiliki keahlian yang dibutuhkan, karena kebanyakan berkemampuan rata-rata untuk semua bidang. Jarang ada yang menguasai bidang-bidang yang spesifik. Hal ini tentunya menyulitkan pihak pencari kerja, karena harus mendidik calon karyawan dulu sebelum mulai bekerja.
Sebagian besar perguruan tinggi atau sekolah mendidik tenaga ahli madya (tamatan D.III) tetapi keahliannya tidak spesifik.
Lebih parah lagi, bahkan ada PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Ini adalah cermin dari proses PEMBODOHAN BANGSA bukan mencerdaskan BANGSA. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang baik & berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Selain itu pula, apa yang menjadi barometer yang menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi? Untuk saat ini opini publik dan beberapa kalangan masyarakat bahwa eksistensi sebuah Perguruan Tinggi dilihat dari kuantitas mahasiswanya bukan kualitasnnya. Nah ini jelas sudah terlihat faktanya bahwa pendidikan di Indonesia hanya menjadi komoditi bisnis semata.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, harapan kami semoga komersialisasi pendidikan tinggi tidak menjadi sebuah komoditi bisnis semata, akan tetapi menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan Juga Bangsa Indonesia.
___________
Tata Sutabri S.Kom, MM -- Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA, Pemerhati Dunia Pendidikan TI, Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969, e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id . Selengkapnya......
Labels:
IPTEK
Subscribe to:
Posts (Atom)